Images

Menyeterika, Pekerjaan yang Membosankan


Kali ini, saya mau bercerita tentang dunia perempuan dengan segunung pekerjaan di rumahnya Dan salah satu pekerjaan yang memiliki segunung material di dalamnya adalah menyerika. Tulisan ini sebenarnya lebih untuk mendokumentasikan hasil obrolan ringan antara saya dengan beberapa teman. Segunung pekerjaan serta sebuah pekerjaan dengan tumpukan pakaian yang menggunung, nyaris membuat ide untuk menuangkan hasil bincang-bincang tak karuan tersebut, hilang dan tertelan segunung lintasan ingatan dan kerja kognitif otak yang harus digunakan dalam waktu bersamaan.
Ketika saya membaca status AS Laksana di akun sosial media miliknya, dan ketika saya membaca postingan mbak Mugniar di blognya, yang keduanya menuangkan hasil pemikiran mereka tentang pekerjaan menyerika, maka saya seperti terpentik kembali untuk menarik kembali hasil bincang-bincang tak karuan tersebut ke lembar sederhana ini.
AS Laksana, dalam statusnya, menulis;
Kalau setrikaanmu menumpuk, mintalah teman ngobrol yang menyenangkan untuk main ke rumahmu. Kau bisa menyeterika pakaian sambil mendengarkan ia becerita apa saja. Maka pekerjaan yang mengerikan itu akan kau selesaikan dengan perasaan senang.
Sementara mbak Mugniar, dalam postingan blognya menulis:
Apakah semua pakaian yang sudah dicuci harus diseterika?
Tidak! Siapa yang mengharuskan?m
Tap kan..
Tap kan, apa?
Apakah ada orang yang terkena penyakit yang amat berat hanya karena pakaiannya tak diseterika?
Tidak.
Apakah ada orang yang terkena bencana maha dahsyat gara-gara pakaiannya tak diseterika?
Tidak.
Apakah ada orang yang meninggal hanya karena pakaiannya tak diseterika?
Tidak.
Apakah ada orang yang masuk neraka hanya karena pakaiannya tak diseterika?
Tidak.
Nah, kan? Kenapa menyiksa diri untuk hal-hal yang tidak penting? Seterika saja yang penting, yang memang kusut dan akan kau pakai bepergian. Lebih baik kau pentingkan kesehatan psikismu daripada kesehatan pakaianmu.
***
Sebenarnya, perbincangan kami tersebut bukanlah perbincangan yang luar biasa, sebagaimana perbincangan-perbincangan kami yang membahas tentang reliability, validity, hasil sebuah penelitian, serta berbagai kajian jurnal ilmiah yang bisa kami unduh secara gratis di negara ini. Ini hanya obrol-obrol tentang dunia kami, dunia perempuan.
Saya mengatakan, bahwa di dunia ini, pekerjaan rumah tangga yang paling membosankan buat saya adalah menyerika. Ada sahabat yang mengekor setuju kalau dia juga begitu, ada yang mengatakan bahwa baginya semua pekerjaan rumah tangga itu membosankan, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa baginya semua pekerjaan di dunia itu membosankan. Sebaliknya, ada yang malah sangat menikmati semua pekerjaan, apapun itu.
Saya menambahkan, sejak sebelum saya masuk ke lingkaran kehidupan rumah kami yang tanpa tangga, bahkan saya sudah membenci pekerjaan menyeterika. Masalahnya, saya adalah perempuan yang tidak berdaya. Tidak  berdaya karena saya diwarisi jiwa pemalas ibu saya, untungnya hanya satu saja dari banyak pekerjaan yang malas dikerjakan ibu saya, menurun pada saya. Saya kenyang dengan hidup yang keras dan penuh penderitaan, sehingga membayar orang untuk menyeterika bukanlah sebuah pilihan yang menyenangkan. Namun ketika nasib baik sedang berpihak pada saya, amboooiiii….alangkah sulitnya mencari seorang gadis atau ibu-ibu di desa yang mau melepas peluhnya dalam tumpukan pakaian yang menggunung. Padahal saya hanya minta menyeterika saja. Untuk pekerjaan rumah tangga saya yang lain, saya belum membutuhkan orang lain. Karena seperti yang saya bilang, menyerika adalah pekerjaan yang paling membosankan buat saya, selain karena saya belum mampu menggaji seseorang untuk mengerjakan banyak hal di rumah saya.
Saya hidup di jaman di mana anak-anak perempuan yang lahir di era jelang abad 20, hampir semua dapat duduk di bangku sekolah, melanjutkan ke perguruan tinggi, mencari kerja, dan pekerjaan menjadi tukang seterika bukanlah pilihan yang membahagiakan. Pilihan yang membahagiakan bagi sarjana-sarjana, sarjana muda, bahkan lulusan SMA pun, adalah bekerja di kantor atau kembali ke sekolah asal menjadi guru. Pokoknya sebuah tempat yang menyenangkanlah, dan itu bukan di sebuah rumah dengan tumpukan pakaian yang menggunung.
Saya tinggal di kompleks yang letaknya di sebuah desa di mana penduduk asli desa tersebut termasuk ke dalam taraf ekonomi menengah ke bawah. Selain ekonomi rendah, latar belakang pendidikan mereka juga rendah. Bahkan masih terdapat banyak generasi yang tidak menamatkan SMP, apalagi perguruan tinggi. Padahal, dua universitas terkemuka, tertua, dan terkenal di Aceh, berada hanya beberapa kilometer saja dari desa saya. Dengan jarak tempuh lebih kurang 15 menit menggunakan sepeda motor, mereka sudah bisa melihat dua kampus itu. Oh, bukan persoalan kenapa mereka tidak bersekolah yang ingin saya tulis di catatan saya kali ini, tapi tentang menyeterika. 
Gadis-gadis di desa kami, meskipun mereka tak bersekolah, yang tentu mereka saja tak menjadi sarjana atau sarjana muda, yang akhirnya tentu saja tak bekerja di kantor, tapi kok mereka memilih-milih pekerjaan, begitu tanya saya. Saya bilang, kan lebih baik mereka membantu perempuan bekerja seperti saya, mendapat sedikit rupiah, daripada hanya duduk diam di rumah, menunggu dibawakan rupiah yang tak seberapa dari orangtua mereka yang berpeluh-peluh di kebun.  Melalui seorang warga kompleks, saya menawarkan beberapa helai rupiah dari sebuah pekerjaan di rumah, yaitu menyeterika. Alangkah nelangsanya saya, ketika mereka menolak. Pasti mereka lebih memilih duduk-duduk saja di rumah karena tak mau bekerja di rumah orang lain, begitu dugaan saya. Saya menduga seperti ini karena saya melihat sebuah fenomena di kampung saya nun di pelosok kampung di Aceh Selatan sana. Gadis-gadis yang terlanjur tidak disekolahkan dan menamatkan sekolah, ya begitu itu kondisinya. Mereka memiliki gengsi yang sama seperti gadis-gadis yang sekolah sampai ke universitas. Menjadi asisten rumah tangga adalah pilihan yang tidak membahagiakan. Dan untuk di jaman ini, di negara bernama Indonesia, ini juga adalah  pekerjaan yang memalukan.
Tapi ternyata saya salah, gadis-gadis di desa ini, adalah gadis-gadis yang berbeda dengan gadis-gadis di kampung saya nun di pelosok Aceh Selatan sana.
Menurut tutur banyak orang, mereka lebih memilih bekerja di pabrik bata daripada menerima tawaran saya dan tawaran-tawaran ibu-ibu bekerja lainnya di kompleks kami, daripada menyeterika bergunung-gunung pakaian di rumah-rumah kami. Desa di sini adalah desa dengan pabrik bata di mana-mana. Kenapa begitu? Tanya saya. Bukankah menyeterika dan membuat bata adalah sama-sama pekerjaan? Menyeterika tidak dilakukan setiap hari, tapi membuat bata, mereka lakukan setiap hari. Seorang teman yang di kemudian hari kami membicarakan banyak hal tentang menyeterika, mengatakan, mungkin saja bagi gadis-gadis itu, menyeterika juga menjadi pekerjaan yang sama membosankan, seperti halnya kita.
Nah, jika begitu jawabannya, berarti menyeterika adalah pekerjaan yang sama membosankan bagi hampir semua kalangan. Bahkan AS Laksana dalam penggalan paragraf pertama statusnya di media sosial menyebut ‘pekerjaan yang mengerikan’ untuk pekerjaan meneyeterika. ‘Mengerikan’ mengindikasikan bahwa menyeterika adalah pekerjaan yang lebih dari membosankan. Sehingga ketika kau melakukan, kau bisa mati dalam rasa bosan. AS Laksana menawarkan sebuah solusi yang menarik; mengundang teman yang menyenangkan datang ke rumahmu dan meminta dia bercerita. Di saat itu, di saat temanmu sedang bercerita,  kau melanjutkan pekerjaanmu menyeterika. Tentu Anda pernah terlibat dalam sebuah perbincangan yang menyenangkan, bukan? Perbincangan seperti ini, dilakukan sambil melakukan pekerjaan lain, akan membuat pekerjaan lain yang disambil tadi selesai tanpa disadari. Sebuah solusi cerdas untuk perempuan yang menganggap menyeterika adalah pekerjaan yang paling membosankan.  
Lain lagi dengan tulisan mbak Mugniar, yang seorang ibu penuh waktu (tidak bekerja), yang sedang berhadapan dengan segunung pakaian yang menumpuk. Ah, saya rasa mungkin bahkan sampai bergunung-gunung. Jika membandingkan dengan saya, dengan suami satu dan anak satu ditambah saya, sudah bisa menciptakan sebuah gunungan pakaian di rumah kami. Apalagi beliau, dengan anak tiga, pastilah ada bergunung-gunung pakaian di rumahnya. Mbak Mugniar seperti sedang bermonolog bahwa tidak ada keharusan untuk menyeterika semua pakaian yang sudah dicuci. Monolog ini sebenarnya lebih untuk mencari pembenaran bahwa tidak penting menyeterika pakaian yang tidak penting. Seterika pakaian yang penting-penting saja. Di sini, mbak Mugniar ingin terbebas dari bergunung-gunung pakaian dengan cara yang sedikit hiperbola; tidak menyeterika semua pakaian berarti tidak akan terkena penyakit yang amat berat, tidak menyeterika semua pakaian berarti tidak terkena bencana maha dahsyat, tidak menyeterika semua pakaian bearti tidak akan meninggal, tidak menyeterika semua pakaian berarti tidak akan masuk neraka. Pentingkan kesehatan psikismu, begitu kata mbak Mugniar. Kenapa langsung ke psikis, bukankah harusnya fisik yang merasa lelah? Kau lihat saja tumpukan pakaian di rumahmu, pasti kau akan se-stress saya, hingga selain kau lelah fisik melakukannya, pikiran dihantui dengan tumpukan pakaian ini, nyaris seumur hidup. 
Gambar dari SINI
Agaknya saya seide dengan mbak Mugniar, ditambah dengan solusi AS Laksana, mungkin akan menjadi tips yang jitu. Yang saya lakukan setelah mengangkat jemuran adalah; memisahkan pakaian-pakaian kami yang hanya kami pakai di rumah (pakaian dalam, kaos kaki, dan lain lain) di satu bagian dan pakaian yang akan kami pakai untuk ke tempat kerja, ke sekolah, pakaian yang hanya dipakai untuk bepergian, di satu bagian lainnya. Satu bagian untuk saya seterika, satu bagian lagi untuk saya lipat langsung dan saya masukkan ke lemari. Lihat saja, nanti akan rapi dengan sendirinya, meski tidak serapi pakaian yang diseterika tentunya. Tetapi, solusi AS Laksana tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Apa ada orang yang mau selalu diminta datang ke rumah? Mungkin saja teman yang mau diundang datang ke rumah belum tentu suka mengobrol yang menyenangkan dan teman yang suka mengobrol menyenangkan belum tentu mau diundang ke rumah (selalu). Pilihan antara dua di atas, sudah pasti ada pelakunya. Mungkin beberapa, mungkin sedikit saja. Tapi kalau kau menggabungkan dua pilihan kondisi di atas menjadi satu; mengundang teman ke rumah dan yang diundang hanya teman yang memiliki obrolan yang menyenangkan, pengerucutan jumlah sudah pasti terjadi di sini.
Tapi rasanya, saya akan menjadi manusia tega, jika saya melakukan itu; mengundangnya hanya untuk menjadikannya teman mengobrol ketika saya sedang menyeterika. Buat saya, kalau bisa pekerjaan sambil mendengarkan teman bercerita apa saja, bukan pekerjaan menyeterika. Mungkin menyulam, memasak, atau membuat anyaman.
***
Pada akhirnya, pekerjaan menyeterika segunung pakaian di rumah tetaplah menjadi pekerjaan yang tak terelakkan.
Pada teman-teman saya tadi, yang saya dengan mereka berbincang tak karuan tentang menyeterika, saya mulai berandai-andai.
“Seandainya ada alat untuk menyeterika yang lebih modern, lebih praktis, dibanding seterikaan kuno ini, tentu saya akan membelinya. Berapapun harganya. Maksud saya, yang saya mengerjakannya tanpa harus menggunakan kedua tangan saya,” kata saya.
“Oh, tentu sudah ada yang lebih modern dari ini. Apa kau sudah melihatnya di channel TV X? Aku pernah melihatnya. Tinggal kau gantungkan saja pakaianmu di lemari, lalu kau gunakan alat tersebut dengan menggerak-gerakkannya di pakaian-pakaiamu. Sama seperti cara menyeterika yang kita lakukan selama ini, namun bedanya kita tak perlu membolak-balik pakaiannya di atas meja seterikaan. Bahkan pakaian kusut bisa langsung kau pakai dank aku seterika dengan alat itu ketika pakaian itu sudah di badan,” kata seorang teman saya.
Gambar ini ada di video INI
"Apa? Cara seperti itu kau sebut lebih modern? Tidak..tidak! Cara itu tidak lebih baik dari cara meneyeterika selama ini. Kau tetap harus berhadapan lama dengan pakaian-pakaianmu, satu per satu. Di mana letak menyenangkannya? Saya mesti tetap menggunakan kedua tangan saya, sehingga tak bisa mengerjakan hal lainnya. Kau tahu untuk apa diciptakan alat elektronik seperti penanak nasi, penghancur bumbu, pencampur adonan kue, atau mesin cuci? Karena perempuan memiliki lebih banyak tangan daripada laki-laki. Supaya energi perempuan tidak terpaku pada satu hal itu saja. Karena jika ini terjadi, kau tidak bisa mengerjakan apa-apa. Intinya, supaya perempuan bisa memainkan banyak tangannya itu untuk banyak hal. Coba kalu lihat pada pekerjaan menyeterika yang kita lakukan selama ini. Kita hanya terpaku melakukan hal satu itu saja. Akibatnya kau tidak bisa melakukan banyak hal lain yang harusnya kau lakukan pada saat bersamaan. Kau memang bisa melakukannya sambil melakukan yang lain, tapi pekerjaan sambilan yang kau lakukan itu tidak melibatkan tangan-tanganmu. Kau melakukannya sambil mendengarkan temanmu bercerita, sambil mendendangkan lagu-lagu, atau menonton drama dengan berpuluh-puluh episode. Kau hanya melibatkan organ tubuhmu yang lain sebagai pengalihan. Bandingkan saat kau meletakkan kain kotor ke dalam mesin cuci, kau bisa mencuci beras lalu meletakkannya dalam panci elektrik, setelah itu kau bisa meracik bumbu lalu meletakkannya dalam mangkuk penghancur bumbu elektrik. Kau lihat, dengan tiga alat ini saja kau bisa memerankan banyak tanganmu. Hmm…jadi begini, saya pernah membayangkan, dengan kata lain berangan-anganlah, tentang alat menyeterika yang saya tak tahu, apakah alat seperti ini sudah diproduksi, atau jika belum, apakah pakar teknologi sudah memikirkan yang seperti saya pikirkan?”
“Ah, kau terlalu banyak beimajinasi! Dasar tukang cerita! Tapi baiklah, apa yang kau pikirkan?” tanya teman saya yang lainnya.
“Mungkin ini bukan sesuatu yang luar biasa. Coba kau bayangkan sebuah alat berbentuk kotak. Bisa jadi seperti lemari, atau seperti lemari es modern, atau seperti mesin cuci yang tinggi. Kau kan tahu, bagaimana mesin cuci bekerja? Tinggal kau masukkan pakaian-pakaian kotormu ke mesin cuci itu, kau campur dengan deterjen, lalu kau putar mesinnya dan bekerjalah si mesin cuci. Siapa yang dulu pernah membayangkan bahwa di jaman ini, perempuan tak perlu lagi sakit pinggang karena berlama-lama membungkuk karena menyikat kain, atau tak perlu terkenal kutu air karena kakinya terendam air dalam waktu yang lama. Alat-alat ini semakin memanjakan perempuan. Kau pun tak perlu risau pakaian tak akan kering jika hari mendung. Mesin cucimu sudah mengeringkannya untukmu. Apa yang tidak mungkin dengan hasil pikir otak manusia? Yang tidak mungkin hanya menemukan sang pencipta pikir itu sendiri. Nah, begitu juga dengan sebuah mesin untuk menyeterika. Jadi begini, dalam mesin ini harus terdapat ruang kosong untuk menggantung baju-baju. Setiap pakaian digantung pada satu gantungan. Gantung semua pakaian dengan rapi sebagaimana kau menggantung bajumu dalam lemari. Untuk kain sejenis sprei, selimut, kain sarung, mesti memakai gantungan khusus agar semua bagian dari jenis kain-kain tersebut bisa terkena panasnya mesin. Karena itu yang penting untuk jenis mesin pengganti seterika ini, semua sisi pakaian mesti terkena panas. Agar mesinnya bekerja maksimal, pastikan pakaian yang kau masukkan tidak kau taruh terlalu rapat. Setelah kau pastikan semuanya baik-baik saja, tutup pintu mesinnya, lalu tekan tomol ‘on’. Panas yang bekerja pada mesin pengganti seterika ini akan membuat kekusutan-kekusutan pada setiap sudut menjadi tertarik dengan sangat licin dan seketika pakaianmu menjadi rapi. Sambil kau menunggu hasil proses pelicinan pakaianmu selesai, kau bisa melakukan pekerjaan lain. Nah, setelah itu kau keluarkan pakaianmu dan gantung dalam lemari pakaianmu.  Kau lihat, kau  tak perlu harus menggunakan kedua tanganmu. Kau tak perlu melakukan ini; membolak-balik bagian kedua lengan, bagian bahu, bagian depan, bagian belakang, belum lagi jika pakaianmu memiliki banyak aksesorisnya; renda, opnaisel, dan entah apa lagi aksesoris pakaian perempuan yang saya tak ahu namanya.
Teman saya tadi, yang saya dengan mereka berbincang tak karuan tentang menyeterika, tertawa sambil mengiyakan.
“Bolehlah, untuk hasil imajinasimu kali ini. Semoga saja ada yang mendengar idemu dan membuat mesin seperti yang kau ceritakan tadi.”
***
*saat menyeterika menjadi pekerjaan yang membosankan

28 komentar:

  1. OWhhh indahnya dunia jika punya alat itu mak ..
    haha

    BalasHapus
  2. Iya maaaakkk..alangkah indahnya dunia kalau ada mesin kayak gitu, hahaaa *ngayal :D*

    BalasHapus
  3. ya mba fardelyn, saya juga mikir klo ada mesin seterika macam mesin cuci tuh enak kali ya.. apalagi yang anaknya banyak dan udah gede2, iih pusing kali yaa? Sekalian juga mesin cuci piring kalau ada :D ampun deh ya.. perempuan jaman sekarang males2 amat ya (termasuk saya nih)? padahal fatimah anak Nabi aja nggiling gandum sendiri :)

    BalasHapus
  4. hahah..itulah kita jama sekarang ya mak, banyak maunya dan banyak manjanya :D
    Saya sih cuma pengen mesin itu aja mbak, yang gak ada, juga gak apa :D

    BalasHapus
  5. kalo mesin cuci piring sudah ad mba vina (nda syahdu) aku biasa liat djual d mall2 gt deh, kalo mesin setrika pengen beli jg klo ad tuch, bikin pinggang patah sih, tp klo aku ad bala bantuan dr siswi2 yg kurang mampu, nnt tak ksh duit jajan or d bayarin uang sekolahx perbulan, Alhamdulillah beres deh setrikaanx ;-)

    BalasHapus
  6. Setrika aja bisa jadi postingan sepanjang ini. Mantap deh.
    Tolong kabar2i ya kalau sudah ada mesin seperti itu. wkwkwk.

    BalasHapus
  7. wow, pengen bgt kalo ada mesinnya. Tapi sebenernya saya lebih suka nyetrika daripada nyuci piring yang bertumpuk-tumpuk, masih bisa nonton TV soalnyo :D

    BalasHapus
  8. hehehe... saya suka menyetrika Mak.. biasanya sambil dengerin musik yang ngebeat trus ikutan nyanyi deh.. :D

    BalasHapus
  9. paling suka dengan rangkaian kalimat ini " Kau tahu untuk apa diciptakan alat elektronik seperti penanak nasi, penghancur bumbu, pencampur adonan kue, atau mesin cuci? Karena perempuan memiliki lebih banyak tangan daripada laki-laki. Supaya energi perempuan tidak terpaku pada satu hal itu saja. Karena jika ini terjadi, kau tidak bisa mengerjakan apa-apa. Intinya, supaya perempuan bisa memainkan banyak tangannya itu untuk banyak hal."

    Wanita memang perkasa!

    BalasHapus
  10. Males nyetrika? Toss! sama kak...

    BalasHapus
  11. Kita sealiran rupanya Jeng Eqi :) Untung lagi2 suamiku gak begitu mengharuskan menyetrika semua bajunya, cukup pakaian kerjanya saja seminggu cuma 6 stel yg kusetrika saking malasnya qiqiq...

    BalasHapus
  12. mmg nyetrika itu sesuatu banggettzzz..hehehe..

    BalasHapus
  13. Aih gak nyangka bisa jadi tulisan sepanjang ini lagi mbak. Seterikaan memang remeh tapi masalah yang ditimbulkannya bisa jadi tak remeh ya mbak? :)

    Ttg perempuan2 yang jobless tapi milih2 kerjaan itu ada di mana2 koq mbak. Sekarang itu susah nyari PRT. Kebanyakan perempuan2 dari kampung maunya jadi penjaga toko atau ya itu, kerja di pabrik, mereka gak mau disuruh2. Kalo pun jadi pembantu, sebentar2 kerjaan mereka mencet atau melototin HP. Ada kan kejadian penjaga anak seorang blogger, 2 lagi PRTnya yang lalai menjaga anak, anaknya sepedaan, lolos keluar kompleks. Mereka tinggal di Jakarta, bayangka betapa stresnya ibunya. Untungnya pencarian segera dilakukan dan anak itu ditemukan ibunya sendiri berada di kantor polisi, dalam penjagaan seorang polwan dalam radius 6-7 km dari rumah.

    Kalau saya sekarang merasakan ternyata jauh lebih hemat listrik, sabun, dan air saat pekerjaan cuci dan seterika saya yang ambil alih. Walau tenaga tidak hemat. Kalau dihemat2 ya numpuk lagi. Tapi kalo dengan PRT dulu, haduh, berkali2 diajarin kalo nyusun baju mbok yang sama, milik saya misalnya disusun sama2, milik anak sulungku disusun sama2. Ini tidak, dia nyusunnya seenaknya jadi butuh waktu lama lagi untuk memindahkan baju dari keranjang seterikaan ke lemari. Enakan kerja sendiri, lipat yang tdk perlu diseterika, memasukkannya ke lemari tidak repot karena sudah disortir :)

    Makasih ya mbak Ecky sudah mention saya di sini :)

    BalasHapus
  14. Oya ada yang komen ini di blog saya mbak:

    Ada sih sebenarnya alat mempercepat seterika.
    Masukin bajunya, tekan tombolnya, uap panas menyembur, selesai. Baju/celana sudah selesai diseterika dalam hitungan detik.
    Tinggal dilipat.

    Pernah liat di tempat laundry di mana gitu..

    *Tapi pasti harganya selangit ya mbak? Dan .. ukurannya mungkin besar? Gak mungkin kan ukurannya mini. Kalo dalam rumah, butuh ruang lagi buat nyimpan alatnya :)*

    BalasHapus
  15. Kaak! saya malah lebih suka nyetrika dari pada nyuci. hihihi

    BalasHapus
  16. mbak Aty:
    Wah, saya penasaran sama mesin pencucui piring ituuuuu..penasaran sama cara kerjanya..pegimane caranya? Secara piringkan banyak yang berbahan kaca? apa gak pecah kira-kira? :D

    mbak Niken:
    Okeeee..mbak..kalau udah keluar mesin yang seperti dalam bayang saya (wkwkwk), tentu akan saya ingat postingan tulisan ini, wkwkwkw...

    Mbak Rini:
    bawa aja maaaaak, tivinya ke dapur :p

    BalasHapus
  17. Mbak Riski:
    gak apa mbaaaakkk..beda dengan isi postingan ini kan gak bikin dosa. *mulai hiperbola kayak mbak niar, wkwkwk :p

    Nynyohm:
    Iyaaaa....makanya kaum pria jangan suka meremehkan kaum perempuan yaaaa :
    Makasih sudah membaca mbak :)

    Nufus:
    Toss aaah sama Nufus :D

    BalasHapus
  18. Mbak Lina:
    Iya mbak, suamiku juag kayak gitu mbak. Bersyukurnya aku mendapat suami kayak dia, dia gak neko-neko siiiig :D

    Mbak Desti:
    iya mbaaakkk...sesuatuuuuu :D

    BalasHapus
  19. Mbak Mugniar:
    Nah, apa yang mbak Niar komen di sini, adalah satu yang lain dilema mencari asisten rumah tangga. Banyaaaaak sekali problematikanya..yang aneh-aneh dan unik-unik. Jangankan orang lain, yang saudara sendiri pun,udah susah diajak tinggak, meskipun kita bilang cuma jagain anak. Belum lagi yang kayak mbak niat cerita,kalau asistennya itu anak gadis...hadeuuuuuuh...ini lebih-lebih mbak, banyak kali persoalannya.
    Ohya mbak, aku penasaran dengan mesin pelicin pakaian yang disevbut itu? gimana ya kira-kira bentuknya

    BalasHapus
  20. Mbak rin:
    nggak apa kakaaaaaaak :D

    BalasHapus
  21. Rasanya kalau cucian udah segunung, masih bisa ngandelin mesin cuci. Tapi kalau kain setrikaan yang menggunung, gak ada solusi lain selain KERJAIN SENDIRI. Duh...Mulainya aja udah males banget >.<

    BalasHapus
  22. Tagihan listrik di bulan lalu aja hampir 800 ribu, gimana jadinya klo sampe nambah mesin strika hayalan kak eqy ini, menggiurkan.... tapi biaya listriknya gak kuku T_T

    Target bulan ini, klo bisa tagihan listrik jauh menurun *hope

    BalasHapus
  23. insyaaallah suatu saat nanti pasti ada alat itu eki, buktinya semakin hari makin aja ada penemuan baru, dari mesin cuci baju, mesin cuci piring, dll

    BalasHapus
  24. Lia:
    Yup, betul sekali tuh Lia, kalo nuyci masih bia mengandalkan mesin cuci, tapi seterikaan, blm ada ya :D

    Fida:
    80 ribu sebulan *pengsan*
    Btw, kayaknya itu bukan hanya kebutuhan listrik untuk rumah tangga deh, kalo diikutkan bisnis, ya iyalaaaah :p

    Lisa:
    iya mak, mudah-mmudahan ya mak :D

    BalasHapus
  25. kisahnya inspiratif utk diangkat ke dlm novel lho kak

    BalasHapus
  26. wah, iyakah mbak Ela? padahal ini nulisnya iseng aja :D

    BalasHapus
  27. hahaha panjang tapi saya abisin bacanya..
    hayalannya ajib
    ada loh mesin strika kayak dilaundry gt... gelar baju kayak mesin fotocopy.. keluar sdh licin tggl dilipat (eh msh pake 2 tangan ya buat lipat) tp kono kata tmn sy yg punya laundri kcl2an.. haganya itu 10 jeti :D mau?

    BalasHapus
  28. eh rumahnya ganti gaya ya?
    lebih suka yg ini mbak.. saya suka blog yg temoat sajiannya (postingan) lbh luas, berasa bertamu piring suguhannya lebar wkwkw.. gak kebanyakan tmpat buat sidebar (hiasan dinding kan ga gt pntg buat pembaca ya) :)

    BalasHapus

Share

Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...